Minggu, 06 Januari 2013

PEMANFAATAN LAHAN PERKARANGAN (PENINGKATAN PEREKONOMIAN dan PEMBANGUNAN)


By
Nurwansyah

Indonesia merupakan Negara yang besar dengan kelimpahan sumber daya alam dan manusia yang besar. Namun saying dengan SDA dan SDM yang melimpah tersebut rakyat masih harus menjerit dan bergelimang kesengsaraan. Pada hal Negara ini dijuluki surga, bahkan kekayaan alam ini  dijadikan sebuah lirik lagu yang sangat-sangat miris
“ bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui,”
Itu hanya sepenggal lirik lagu, saya yakin kita semua tentunya hafal dengan lagu tersebut, akan tetapi bila kita bandingkan dengan fakta yang ada sekarang, sangat bertolak belakang.
Jika saja para elit-elit politik dinegri ini lebih peduli dan respon serta kreatif, banyak hal yang dapat dimanfaatkan dinegri ini guna meningkatkan taraf hidup masyarakatnya.salah satu hal yang terlupkan ialah : Rakyat adalah pondasi utama sebuah Negara, perekonomian rakyat adalah kekuatan perekonomian Negara. Jadi, perekonomian Negara yang kuat berawal dari pembangunan perekonomian tingkat bawah (rakyat) bukan kalangan pengusaha yang sudah barang tentu berduit.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan guna meningkatkan perekonomian masyarakat terutama masyarakat pedesaan dan pelosok ialah pemanfaatan lahan perkarang. Pada umumnya lahan perkarangan rumah masyarakat daerah pelosok, pedesaan sangat luas sementara bangunan tempat tinggalnya sempit. Jika kita anggap setiap masyarakat dipelosok dan pedesaan memiliki luas lahan perumahan 20 x 20 m sedangkan untuk bangunan rumah hanya 8 x 10 m, artinya setiap masyarakat pedesaan dan pelosok memiliki luas perkarangan 12 x 10 m. jika angka ini kita jumlahkan dengan seluruh penduduk yang ada dipedesaan dan pelosok negri ini, ada luas lahan yang terhampar begitu saja. Jika ada alasan begini dan begitu, tentang lahan perkarangan tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat, memang benar, tetapi pakah pemanfaatan tersebut efektif? Karena umumnya lahan perkarangan masyarakat, ditanaman pepohonan, tanaman hias dan tanaman buah-buahan yang tak bernilai ekonomis tinggi.
Andai saja, para pemimpin negri ini mau menyisihkan sedikit saja anggaran untuk pemanfaatan lahan perkarangan dipedesaan dan pelosok negri ini, akan banyak keuntungan dan kebaikan yang akan diperoleh terutama dalam peningkatan perekonomian bangsa tercinta ini.
Pemanfaatan lahan perkarangan tersebut sangat efektif dan efisin apabila ditanami dengan tanaman-tanaman yang bernilai ekonomis dan dibutuhkan oleh masyarakat contoh tanaman sayur-mayur seperti kangkung, cabai, sawi, dan masih banyak lagi jenis tanaman sayuran lainnya yang berumur genja (pendek), dan ini tidak perlu lahan yang luas, karena kita bisa memanfaatkan polybag, kantung plastik, karung goni bekas, kaleng cat, dan wadah lainnya dengan sistem budidaya yang kreatif dan intensifikasi lahan. Untuk melaksanakan kegiatan ini agar berjalan baik, kita bisa memanfaatkan tenaga-tenaga professional seperti mahasiswa pertanian sebagai penyuluh, atau disiplin ilmu lainnya yang berkompeten. Saya rasa pra pemimpit dan elit-elit politik dinegri ini lebih pintar dari saya, tentu mereka sudah tahu apa yang seharusnya mereka lakukan.
Keuntungan pemanfaatan lahan perkarangan ini baik langsung maupun tidak langsung akan memberikan dampak terhadap peningkatan perekonomian masyarakat dan penciptaan lapangan kerja. Jika kita gambarkan, maka akan membentuk sebuah lingkaran besar yang saling memiliki keterkaitan. Artinya dengan modal sedikit kita memperoleh berlipat keuntungan. Saya akan membandingkan biaya yang dikuluarkan oleh pemerintah untuk membiayai PLN selama satu tahun dan manfaat yang diperoleh dengan biaya yang pemanfaatan lahan perkarangan dan manfat yang diperoleh. Perbandingannya seperti dibawah ini :

PLN (Perusahaan Listrik Negara) dengan biaya modal usaha pertahuan dari pemerintah 2-3 T pertahun saya ambil angka dibawah yang sebenarnya diberikan oleh pemerintah dengan tujuan tertentu. Manfaatnya :
  1. Memenuhi kebutuhan enegi masyarkat (umumnya menggunakan peralatan listrik ex : tv, kompoter, dll)
  2. Meningkatkan perekonomian khususnya meningkatkan peluang munculnya usaha skala kecil-menengah
  3. Menciptakan lapangan kerja
  4. Meningkatkan kemajuan bidang ilmu komunikasi dan teknologi
  5. Penerang kegelapan hahaha

Kelemahan :
  1. Selalu merugi dan tidak pernah dengar PLN untung (tidak efektif dan efisien)
  2. Hanya dirasakan oleh sebagain rakyat Indonesia (50 masuk PLN :50 gak masuk PLN)
  3. Lapangan kerja terbatas khusunya hanya untuk mereka yang memiliki skill dan pendidikan tertentu (Indonesia banyak yang pendidikannya rendah khususnya didesa apalagi didaerah pelosok)
  4. Tarif TDL terus naik tapi manfaat terus turun
  5. Peluang munculnya usaha terbatas terhadap usaha tertentu (fotocopy, warnet, dll)
Jika biaya sebesar 2-3 Truliun rupiah digunakan untuk pemafaatan lahan perkarangan akan bermafaat dalam hal :
  1. Meningkatkan pendapatan masyarakat
  2. Meningkatkan peluang usaha kecil menengah bagi mereka yang berpendidikan rendah hingga tinggi
  3. Memenuhi kebutuhan pangan rakyat
  4. Meningkatkan kualitas hidup rakyat terutama bidang kesehatan
  5. Membuka peluang kerja
  6. Meningkatkan taraf pendidikan masyarakat
  7. Menciptakan kemandirian masyarakat
  8. Mengurangi pengangguran intelektual
  9. Menekan rasio kejahatan/kriminalitas
  10. Cukup sekali menggeluarkan anggaran negara dan selanjutnya tidak perlu
  11. Meningkatkan pembangunan infrastruktur

Kelemahan :
Hampir tidak ditemukan dengan catatan ini dilakukan sesuai SOP yang benar.

Lantas, apakah pemerintah tidak pernah memikirkan hal ini? Pernah gak kita dengan peribahasan ini :

“sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit”
Dari yang hal yang kecil akan menjadi besar dan hal besar akan menjadi kecil sebenarnya itu maksud yang tersirat dari peribahasan tersebut. Kita sering meupakan hal yang kecil, padahal hal kecil itulah kunci utama keberhasilan hal yang besar
konsep ini lah yang dijanjikan dengan pemanfaatan lahan perkarangan tersebut. Saya tidak uraikan manfaatnya dengan detail karena saya yakin para pembaca tentu sudah dapat mengerti maksud saya. Selain itu, dengan penggunaan anggaran belanja Negara yang bijak, tujuan mulia Negara ini untuk meciptakan kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran akan terealisasi. Maskudnya ialah : anggaran seharusnya tidak untuk membiayai hal kepentingan yang itu-itu saja apapun ceritanya (Perusahaan Negara yang terus merugi) tetapi digunakan untuk membiayai kegiatan lain yang lebih efektif dan efisien. Konsepnya sebenarnya mudah saja menurut saya yaitu konsep aneka kebijakan dan pemanfaatan (maaf saya kurang tahu dengan istilah-istilah tersebut, harap dimaklumi. Artinya jika tahun ini anggaran digunakan untuk membiayai ini, maka tahun berikutnya untuk membiayai kegiatan lain, begitu juga dengan tahun-tahun berikutnya (kecuali untuk kebutuhan pokok Negara seperti gaji pegawai dll), jadi akan muncul topang menopang antara kegiatan satu dengan kegiatan lainnya (jika satu tidak efektif maka yang satu tentu efektif sehingga akan terjadi yang namanya menutupi kelemahan dengan kelebihan). Dengan konsep ini maka, SDA dan SDM yang melimpah dinegri ini akan terekspoitasi optimal.
Fakta yang terjadi saat ini yang menyebabkan Negara ini tertinggal (sebutan kerennya Negara sedang berkembang alias Negara tertinggal) adalah :
  1. Pemerintah tidak memiliki konsep kepemimpinan dan kebijakan yang berkesinambungan. Ganti pemimpin ganti kebijakan. Istilahnya jika mau bangun rumah pemimpin yang satu membuat konsep rumah seperti ini, setelah berjalan setengahnya ternyata masa jabatan berakhir kemudian diganti dengan pemimpin baru, ternyata pemimpin baru ingin meneruskan tetapi dengan konsep lain pula, alhasil diganti, bangun lagi yang baru. Lucu kan?   Ini namanya “Generasi pembangun bukan generasi penerus bangsa “ masuk logika kan?
  2. Pemerintah lebih mementingkan urusah yang besar dari pada urusan yang kecil. pada hal yang kecil itulah hal yang penting. Narasinya seperti ini “ ada sebuah rumah besar, tiap hari sipemilik sibuk membersihkan halaman, ruang tamu, pokoknya rumah terlihat mengkilap deh, tapi lupa bersihkan WC (kamar mandi). Jika anda menilai kebersihan rumah misalnya apa yang anda nilai terlebih dahulu? Pernah dengan tentunya tentang menilai kebersihan kamar mandi terlebih dahulu? Tapi bukan berarti dengan ini kita mengenyampingkah hal yang besar tetapi harus ada keseimbangan (belens) antara keduanya, baik hal yang kecil maupun besar tetap mendapat porsi perhatian dan keseriusan yang sama
  3. “Selagi bisa dipersulit kenapa harus dipermudah” ini lah prinsip-prinsip yang sering dijumpai dalam setiap urusan baik dipemerintahan. Padahal hal yang diurus adalah hal-hal yang sepele dan tidak berlu menghabiskan waktu yang lama
  4. Budaya antri. Kenapa terjadi budaya antri? Karena tidak cukupnya pelayan dengan yan dilayani kalaupun cukup banyak yang mangkir melayani dengan berbagai alasan. Fakta banget
  5. Sistem birokrasi semau gue
  6. Kelosidan dan keabsahan serta ketegasan kebijakan masih goyang.
  7. Keinginan dan hasrat tinggi, realisasi cukup dikertas
  8. Jago memprediksi, merancang, menyulap, berdebat tapi sedikit dan lambat bertindak

Setidaknya itulah rapor bagus negri ini. Cocok untuk dilanjutkan

Tidak ada komentar:

bagaimana pendapat anda mengenai blog ini?