Tampilkan postingan dengan label tantangan dan peluang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tantangan dan peluang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Oktober 2012

Tanah Gambut dan Permasalahanya


 Media tanam merupakan tempat untuk penyebaran akar yang berfungsi untuk penyangga tanaman agar dapat berdiri tegak dan tempat untuk penyerapan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, maka media tanam harus mendukung pertumbuhan dan kehidupan tanaman. Oleh karena itu media tanaman harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 
1. Dapat menopang tanaman agar dapat tegak. 
2. Mempunyai drainase dan aerase yang baik.
3. Kaya bahan organik.
4. Kemasaman tanah (pH) berkisar antara 5,6-6,8
5. Mampu menyediakan unsur hara tersedia bagi tanaman
6. Mampu menjaga kelembaban disekitar akar. 
5. Memiliki tekstur remah
Di indonesia, luas lahan tanah gambut cukup besar dan sangat potensial dikembangkan dalam pengembangan pertanian. Tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tanaman yang telah mati dan terdapat pada  tempat  yang selalu tergenang air sehingga gambut merupakan tanah yang berkadar  bahan organik tinggi hanya saja unsur hara yang dibutuhkan belum terurai sehingga sulit dimanfaatkan  tanaman. 
Tanah gambut secara umum dalam ilmu tanah disebut tanah organosol atau histosol yaitu tanah yang memiliki lapisan bahan organik dengan berat jenis (BD) dalam keadaan lembab.  Gambut diklasifikasikan lagi berdasarkan berbagai sudut pandang yang berbeda; dari tingkat kematangan, kedalaman, kesuburan dan posisi pembentukannya. Berdasarkan tingkat kematangannya, gambut dibedakan menjadi:
  1. Gambut saprik (matang) adalah gambut yang sudah melapuk lanjut dan bahan asalnya tidak dikenali, berwarna coklat tua sampai hitam, dan bila diremas kandungan seratnya < 15%.
  2. Gambut hemik (setengah matang) (Gambar 2, bawah) adalah gambut setengah lapuk, sebagian bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarma coklat, dan bila diremas bahan seratnya 15 – 75%.
  3. Gambut fibrik (mentah) (Gambar 2, atas) adalah gambut yang belum melapuk, bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarna coklat, dan bila diremas >75% seratnya masih tersisa.
 Berdasarkan tingkat kesuburannya, gambut dibedakan menjadi:
  1. Gambut eutrofik adalah gambut yang subur yang kaya akan bahan mineral dan basa-basa serta unsur hara lainnya. Gambut yang relative subur biasanya adalah gambut yang tipis dan dipengaruhi oleh sedimen sungai atau laut.
  2. Gambut mesotrofik adalah gambut yang agak subur karena memiliki kandungan mineral dan basa-basa sedang.
  3. Gambut oligotrofik adalah gambut yang tidak subur karena miskin mineral dan basa-basa. Bagian kubah gambut dan gambut tebal yang jauh dari pengaruh lumpur sungai biasanya tergolong gambut oligotrofik Gambut di Indonesia sebagian besar tergolong gambut mesotrofik dan oligotrofik
  4. Gambut eutrofik di Indonesia hanya sedikit dan umumnya tersebar di daerah pantai dan di sepanjang jalur aliran sungai.
Tingkat kesuburan gambut ditentukan oleh kandungan bahan mineral dan basa-basa, bahan substratum/dasar gambut dan ketebalan lapisan gambut. Gambut di Sumatra relatif lebih subur dibandingkan dengan gambut di Kalimantan.
Berdasarkan lingkungan pembentukannya, gambut dibedakan atas:
  1. Gambut ombrogen yaitu gambut yang terbentuk pada lingkungan yang hanya dipengaruhi oleh air hujan
  2. Gambut topogen yaitu gambut yang terbentuk di lingkungan yang mendapat pengayaan air pasang. Dengan demikian gambut topogen akan lebih kaya mineral dan lebih subur dibandingkan dengan gambut ombrogen.
 Berdasarkan kedalamannya gambut dibedakan menjadi:
  1. Gambut dangkal (50 – 100 cm),
  2. Gambut sedang (100 – 200 cm),
  3. Gambut dalam (200 – 300 cm), dan
  4. Gambut sangat dalam (> 300 cm)
 Berdasarkan proses dan lokasi pembentukannya, gambut dibagi menjadi:
  1. Gambut pantai adalah gambut yang terbentuk dekat pantai laut dan mendapat pengayaan mineral dari air laut
  2. Gambut pedalaman adalah gambut yang terbentuk di daerah yang tidak dipengaruhi oleh pasang surut air laut tetapi hanya oleh air hujan
  3. Gambut transisi adalah gambut yang terbentuk di antara kedua wilayah tersebut, yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh air pasang laut.
Gambut merupakan salah satu jenis tanah dengan luas lahan yang cukup besar dan sangat potensial dikembangkan dalam kegiatan pertanian hortikultura. Gambut memiliki potensi kandungan bahan organik tinggi dan kemampuan menyerap air tinggi yaitu 13 kali dari beratnya. Namun, permasalahan pengembangan pertanian di tanah gambut menjadi kendala utama dalam pengembangan pertanian hortikultura. Kendala pertanian pada tanah gambut sesungguhnya disebabkan oleh drainaise jelek, kemasaman tinggi, tingkat kesuburan dan kerapatan lindak rendah. Kemasaman gambut yang tinggi dan ketersediaan hara serta Kejenuhan Basah (KB) rendah menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman sangat rendah. untuk itu perlu dilakukan upaya yang dapat meningkatkan kesuburan tanah pada tanah gambut. cara yang dapat dilakukan yaitu :
1. Pengelolaan air
Budidaya tanaman pangan di lahan gambut harus menerapkan teknologi pengelolaan air, yang disesuaikan dengan karakteristik gambut dan jenis tanaman. Pembuatan saluran drainase mikro sedalam 10 - 50 cm diperlukan untuk pertumbuhan berbagai jenis tanaman pangan pada lahan gambut. Tanaman padi sawah pada lahan gambut hanya memerlukan parit sedalam 10-30 cm. Fungsi drainase adalah untuk membuang kelebihan air, menciptakan keadaan tidak jenuh untuk pernapasan akar tanaman, dan mencuci sebagian asam-asam organik. Semakin pendek interval/jarak antar parit drainase maka hasil tanaman semakin tinggi. Walaupun drainase penting untuk pertumbuhan tanaman, namun semakin dalam saluran drainase akan semakin cepat laju subsiden dan dekomposisi gambut  
2. Pengelolaan kesuburan tanah
Tanah gambut bereaksi masam. Dengan demikian diperlukan upaya ameliorasi untuk meningkatkan pH sehingga memperbaiki media perakaran tanaman. Kapur, tanah mineral, pupuk kandang dan abu sisa pembakaran dapat diberikan sebagai bahan amelioran untuk meningkatkan pH dan basa-basa tanah. Tidak seperti tanah mineral, pH tanah gambut cukup ditingkatkan sampai pH 5 saja karena gambut tidak memiliki potensi Al yang beracun. Peningkatan pH sampai tidak lebih dari 5 dapat memperlambat laju dekomposisi gambut. Pengaruh buruk asam-asam organik beracun juga dapat dikurangi dengan menambahkan bahan-bahan amelioran yang banyak mengandung kation polivalen seperti terak baja, tanah mineral laterit atau lumpur sungai.



Jenis Amelioran
Dosis
(ton Ha-1 tahun 1)
Manfaat
Kapur Pertanian
1-2
Meningkatkan basa-basa dan pH tanah
Pupuk Kandang
5-10
Memperkaya unsur hara makro dan mikro
Abu
10-20
Meningkatka basa-basa dan pH tanah
Pupuk Kompos
10-15
Memperkaya unsur hara makro dan mikro

Limbah Biogas

10-20
Mengurangi fitotoksik asam organik
Meningkatkan basa-basa dan
Memperkaya hara

Tanah Mineral

10-20
Mengurangi fitotoksik asam organik
Meningkatkan basa-basa
Meningkatkan kadar hara makro dan mikro
Keterangan: Bebarapa amelioran dapat menggantikan fungsi amelioran lainnya. Misalnya, dengan pemberian kapur, pemberian abu dapat dikurangi dan sebaliknya.

Pemupukan sangat dibutuhkan karena kandungan hara gambut sangat rendah. Jenis pupuk yang diperlukan adalah yang mengandung N, P, K, Ca dan Mg. Walaupun KTK gambut tinggi, namun daya pegangnya rendah terhadap kation yang dapat dipertukarkan sehingga pemupukan harus dilakukan beberapa kali (split application) dengan dosis rendah agar hara tidak banyak tercuci. Penggunaan pupuk yang tersedianya lambat seperti fosfat alam akan lebih baik dibandingkan dengan SP36, karena akan lebih efisien, harganya murah dan dapat meningkatkan pH tanah
Penambahan kation polivalen seperti Fe dan Al akan menciptakan tapak jerapan bagi ion fosfat sehingga bisa mengurangi kehilangan hara P melalui pencucian. Tanah gambut juga kahat unsur mikro karena dikhelat (diikat) oleh bahan organik. Oleh karenanya diperlukan pemupukan unsur mikro seperti terusi, magnesium sulfat dan seng sulfat masing-masing 15 kg ha-1 tahun-1, mangan sulfat 7 kg ha-1 tahun-1, sodium molibdat dan borax masing-masing 0,5 kg ha-1 tahun-1. Kekurangan unsur mikro dapat menyebabkan kehampaan pada tanaman padi, tongkol kosong pada jagung atau polong hampa pada kacang tanah.

 
 Sekian dulu yea,, semoga bermanfaat

Minggu, 11 Desember 2011

TANTANGAN KETAHANAN PANGAN INDONESIA



Oleh :
Nurwansyah

Secara garis besar Menurut UU No 7 Tahun 1996 bahwa ketahanan pangan adalah suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap individu, pangan yang tersedia setiap waktu dan pangan yang mudah diperoleh. Terpenuhi pangan harus memenuhi beberapa persyaratan yakni : keamanan pangan, mutu pangan, Kuantitas  pangan dan tersebar secara merata. Dalam kata lain, Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yan cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Pangan diartikan sebagai segala sesuatu yang berasal dari sumber daya hayati dan air baik diolah maupun tidak yang diperuntukkan sebagai makanan/minuman untuk dikonsumsi manusia, termasuk : Bahan tambahan makanan, Bahan baku makanan, bahan lain dalam proses pengolahan, pembuatan makanan / minuman. Kondisi suatu wilayah atau Negara dikatakan sebagai wilayah atau Negara makmur dan maju apabila ketahanan pangannya MANTAP dengan mengacu kepada 3 pilar utama sebagai indikator. Ketiga pilar tersebut yakni :
      1. Ketersediaan Pangan (KP) yaitu : pangan yang tersedia disuatu wilayah berasal dari produksi lokal sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan pangan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni :
a.       Kebijakan Pemerintah
b.      Mutu dan luas lahan
c.       Cara/praktek pertanian
d.      SAPRODI
e.       Faktor lingkungan ( cuaca/iklim )
f.        Peranan Sosial dan
g.      Transportasi
       2.      Distribusi (akses) pangan yaitu : pasokan pangan merata keseluruh wilayah, harga stabil dan terjangkau secara bekelanjutan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
a.       Jumlah dan mutu pangan
b.      Sarana dan Prasarana Transportasi
c.       Jarak antar wilayah, dan
d.      rantai distribusi  
       3.      Penggunaan / konsumsi yaitu :  rumah tangga mampu mengakses cukup pangan dan mengelola konsumsi sesuai kaedah gizi dan kesehatan yang dipengaruhi oleh :
a.       Pola makanan
b.      Distribusi dalam keluarga
c.       Jumlah keluarga
d.      Pangan yang tercecer/pangan hilang
e.       Keadaan kesehatan
f.        Sosial budaya
g.      Iklim/cuaca
h.      Akseptabilitas pangan
i.        Penampilan (warna, bau, rasa , bentuk)
j.        Pengaruh mass media (iklan dll)
k.      Status sosial
l.        Pengolahan pangan

Dengan kata lain, bahwa Negara yang makmur dan maju adalah Negara yang pangannya terpenuhi. Didalam UU No 32 Tahun 2004 dijelaskan bahwa : Tugas utama pemerintah pusat terbatas pada mengatur kebijakan nasional dalam masalah pertanian dan ketahanan pangan, alokasi biaya dan fasilitasi sedangkan Pemerintah daerah menerapkan kebijakan nasional dan leluasa dalam menetapkan prioritas pembangunan masing-masing. UU No 32 Tahun 2004 semakin diperkuat dengan keluarnya peraturan pemerintah No 3 Tahun 2007 yang menyatakan bahwa ketahanan pangan merupakan urusan wajib pemerintah. Ini semakin mempertegas pernyataan yang menyatakan bahwa ketahanan pangan merupakan parameter keadaan ekonomi suatu Negara.
Tantangan dan Hambatan Dalam Memenuhi Ketahanan Pangan
1. Kebijakan Pemerintah
            Kebijakan atau peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah akan mempengaruhi :
  1. Keberlangsungan Produksi Pangan
  2. Merangsang Produksi Pangan
  3. Pendapatan Rumah Tangga Petani Pangan
2. Iklim
Iklim yang tidak sesuai akan menyebabkan :
  1. waktu penanaman tanaman pangan terganggu
  2. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman terganggu
  3.  Organisme pengganggu tanaman meningkat
  4. Keberlangsungan usaha tani khususnya tani pangan 
  5. Produksi pangan menurun
3. Bencana Alam


  





4. Saprodi
Sarana produksi akan mempengaruhi terpenuhi atau tidaknya ketahanan pangan yang ditentukan oleh :
  1. Tersedia atau tidaknya saprodi bagi usaha tani tanaman pangan
  2. Harga saprodi
  3. Keamanan saprodi
5. Manajement (Modal)
            Ada atau tidaknya usaha tani tanaman pangan tergantung pada kemudahan dalam memperoleh modal yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah.
6. Lahan
Menjadi tantangan tersendiri bagi petani tanaman pangan karena pada umumnya tantangan yang paling sulit untuk di hadapi oleh petani adalah masalah lahan yang disebabkan oleh :
  1. Tingkat Kesuburan tanah / Lahan
  2.  Alih Fungsi Lahan
  3.  Luas Lahan
7. Transportasi
  1. Transportasi yang mendukung atau tidaknya dapat dilihat dari beberapa aspek :
  2. 1.      Tersedia atau tidaknya sarana dan prasarana transportasi
  3. 2.      Cukup atau tidaknya jumlah sarana prasarana transportasi
  4. 3.      Kesesuaian sarana prasarana transportasi

Solusi Tantanga Dan Hambatan Dalam Memenuhi Ketahanan Pangan
Solusi terbaik dari masalah-masalah yang ada dalam memenuhi ketahanan pangan ialah kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani. kebijakan-kebijakan yang bepihak kepada para petani diantaranya ialah :
  1. Membatasi izin pengusahaan lahan-lahan subur untuk pemukiman, pertokoan, dan perkantoran serta pembukaan usaha perkebunan seperti kelapa sawit dan kehutanan
  2. Memberikan akses dan jaringan serta jaminan serta kemudahan kepada para petani dalam memperoleh modal dari pihak-pihak ketiga seperti perBANK kan
  3. Memperluas akses permodalan bagi para petani khususnya petani tanaman pangan seperti program PNPM mandiri yang diperuntukan khusus petani, dan lembaga-lembaga permodalan lain
  4. Penetapan standar harga minimum ditingkat petani yang stabil dan sesuai dengan kebutuhan saat itu
  5.  Pembangunan sarana dan prasaranan transportasi yang merata, berkualitas, tepat jumlah dan jenis
  6.  Menetapkan harga SAPRODI yang sesuai dengan harga jual hasil produksi tanaman pangan, bermutu, aman dan berkelanjutan. Jangan sampai harga benih, pupuk dll tidak seimbang dengan harga jual hasil produksi tanaman pangan
  7. Pembentukan dan pemberian penyuluhan pertanian serta menyiapkan tenaga penyuluh yang aktif untuk membina petani disuatu wilayah bukan petugas penyuluha yang Cuma duduk dikantor, dan hanya mau bertugas dikota saja
  8. Dan masih banyak solusi yang dapat dilakukan oleh pemerintah. Kan orang-orang yang duduk di pemerintahan buka orang bodoh-bodoh. Masak nyelesaiin masalah gini aja gak bisa.



The great country is GOOD agriculture aplications
Jaya terus Indonesia, maju dan makmurlah hidup mu wahai para pahlawanku (petani)




bagaimana pendapat anda mengenai blog ini?